Dua Penyidik PBB Ditemukan Tewas di Kongo Setelah Dua Pekan Menghilang

Kabarsmart.com, Kango – Penduduk Kongo menemukan mayat yang diduga jasad warga negara Amerika Serikat dan warga negara Swedia yang bekerja untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Warga setempat menemukan kedua mayat di sebuah kuburan dangkal di Republik Demokratik Kongo.

“Penemuan jasad ini terhitung sejak dua pekan kedua orang itu dilaporkan menghilang,” kata salah seorang staf PBB kepada BBC, Selasa (28/3).

Seorang warga negara Amerika Serikat bernama Michael Sharp dan warga negara Swedia, Zaida Catalan merupakan anggota Kelompok Pakar PBB yang menyelidiki kekerasan dan dugaan pelanggaran HAM oleh tentara Kongo dan kelompok-kelompok milisi lokal di Provinsi Central Kasai. Sharp dan Zaida bersama seorang penerjemah asal Kongo bernama Bete Tshintela dilaporkan pada 12 Maret lalu saat bekerja di wilayah tersebut.

Pejabat kepolisian Kongo, Inspektur Jenderal Charles Bisengimana mengatakan, kedua mayat itu ditemukan pada Senin (27/3) di antara Kota Tshimbulu dan Kananga.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menegaskan, kematian mereka dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Selasa (28/3) malam waktu setempat. Guterres mengucapkan belasungkawa kepada keluarga korban.

Dalam pernyataan yang dibuat Guterres, ia berjanji menyelidiki penyebab kematian korban. Ia juga akan meminta pihak berwenang Kongo untuk melakukan penyelidikan penuh atas insiden ini. Ia mendesak pemerintah setempat untuk terus mencari empat warga Kongo yang masih hilang.

“Michael dan Zaida kehilangan nyawa saat berusaha menguak penyebab konflik dan ketidakamanan di DRC. Keduanya membawa misi membantu perdamaian ke negara dan rakyat DRC,” kata Guterres.

Ia melanjutkan, PBB akan menghormati karya kedua korban dengan mendukung pekerjaan yang tak ternilai dari Kelompok Ahli dan keluarga PBB keseluruhan di DRC.

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Nikki Haley turut memuji profesionalisme Sharp. “Michael bekerja di garis depan, menemukan masalah dan memperbaikinya. Dia tanpa pamrih menempatkan dirinya dalam bahaya untuk mencoba untuk membuat perbedaan dalam kehidupan orang-orang Kongo,” tutur Haley.

Facebook Comments

Related posts

Leave a Comment